Aku selalu percaya Tuhanku ada, aku percaya Dia melindungiku, aku percaya Dia punya mekanisme yang tidak bisa diduga manusia. Aku percaya Tuhanku menyukai orang yang belajar; karenanya aku percaya Dia tidak keberatan sesekali aku mempertanyakan Diri-Nya, mempertanyakan kebijakan-Nya, bukankah itu bagian dari proses belajar ?
Aku tahu Dia tidak akan marah dengan segala tanya dan raguku, aku bersikap manusiawi, aku bersikap kritis, aku bertanya, aku menggugat jawab. Dalam tiap tanyaku, aku berharap menemukan jawaban yang lebih mendekatkanku kepada-Nya. Bukankah Dia Sang Maha Benar ? Maka tiap-tiap kebenaran akan membawaku selangkah lebih dekat kepada pemahaman tentang-Nya.
Kemarin temanku mempertanyaan keimananku saat aku menulis lirik Alanis Morisette sebagai status, kukatakan “what if God was one of us ?”, bagaimana anda Tuhan adalah salah satu dari kita. Kenapa sebegitu dipersalahkannya pertanyaan itu, bukankah kalian pun tidak tahu bagaimana mekanisme Tuhan mengawasi kita ? Bukankah memang pernyataan itu sebagian benar, saya berpikir bahwa Tuhan memang merupakan bagian dari kita, saya mempercayai Ruh kita adalah gelembung-gelembung kecil nafas Tuhan yang berpijak di dunia, tapi kita bukan Tuhan. Namun siapa menyangkal jika sesekali Tuhan ingin menjelma ? Dan percayalah, Dia tidak akan melakukan hal-hal bodoh seperti mengakui identitas asli-Nya. Jangan percaya jika mendadak orang di sebelahmu mengaku dia adalah Tuhan.
Aku pernah membahas mengenai keterkaitan keberadaan Tuhan yang ada ‘dimanapun, kapanpun’ dengan teori fisika kuantum. Ya, dunia pararel. Aku percaya Tuhan mendampingi kita sejak lahir, hingga kematian kita di dunia pararel khusus kita masing-masing. Dia bahagia di hari penciptaan kita, dan Dia juga ada di sisi kita saat kita menghembuskan nafas terakhir. Lalu dia mengunjungi dunia pararel lain. Lalu yang lain menatapku seolah aku sudah gila, yang lain mengisyaratkan bahwa agama dan sains adalah air dan minyak. Kenapa kalau aku ingin menggabungkan keduanya ? Aku hanya ingin ada jawaban atas Tuhanku, dan tidak sedikitpun aku ragu atas keimananku kepada-Nya.
Kusembah, kupuja, kurangkul Engkau dalam jiwaku ya, Tuhan. Aku hanya manusia mencari jawaban. Dan manusia yang takut bertanya sesungguhnya akan berkubang dalam kegelapan tanpa cercah cerah tentang diri-Mu.
Aku tahu Dia tidak akan marah dengan segala tanya dan raguku, aku bersikap manusiawi, aku bersikap kritis, aku bertanya, aku menggugat jawab. Dalam tiap tanyaku, aku berharap menemukan jawaban yang lebih mendekatkanku kepada-Nya. Bukankah Dia Sang Maha Benar ? Maka tiap-tiap kebenaran akan membawaku selangkah lebih dekat kepada pemahaman tentang-Nya.
Kemarin temanku mempertanyaan keimananku saat aku menulis lirik Alanis Morisette sebagai status, kukatakan “what if God was one of us ?”, bagaimana anda Tuhan adalah salah satu dari kita. Kenapa sebegitu dipersalahkannya pertanyaan itu, bukankah kalian pun tidak tahu bagaimana mekanisme Tuhan mengawasi kita ? Bukankah memang pernyataan itu sebagian benar, saya berpikir bahwa Tuhan memang merupakan bagian dari kita, saya mempercayai Ruh kita adalah gelembung-gelembung kecil nafas Tuhan yang berpijak di dunia, tapi kita bukan Tuhan. Namun siapa menyangkal jika sesekali Tuhan ingin menjelma ? Dan percayalah, Dia tidak akan melakukan hal-hal bodoh seperti mengakui identitas asli-Nya. Jangan percaya jika mendadak orang di sebelahmu mengaku dia adalah Tuhan.
Aku pernah membahas mengenai keterkaitan keberadaan Tuhan yang ada ‘dimanapun, kapanpun’ dengan teori fisika kuantum. Ya, dunia pararel. Aku percaya Tuhan mendampingi kita sejak lahir, hingga kematian kita di dunia pararel khusus kita masing-masing. Dia bahagia di hari penciptaan kita, dan Dia juga ada di sisi kita saat kita menghembuskan nafas terakhir. Lalu dia mengunjungi dunia pararel lain. Lalu yang lain menatapku seolah aku sudah gila, yang lain mengisyaratkan bahwa agama dan sains adalah air dan minyak. Kenapa kalau aku ingin menggabungkan keduanya ? Aku hanya ingin ada jawaban atas Tuhanku, dan tidak sedikitpun aku ragu atas keimananku kepada-Nya.
Kusembah, kupuja, kurangkul Engkau dalam jiwaku ya, Tuhan. Aku hanya manusia mencari jawaban. Dan manusia yang takut bertanya sesungguhnya akan berkubang dalam kegelapan tanpa cercah cerah tentang diri-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar